Wednesday, March 22, 2017

Ritual Seminggu






Mungkin sebulan yang lalu, atau lebih, saya tiba-tiba ngerasa ada yang nggak beres, ada sesuatu yang salah dengan rutinitas yang saya jalani. Hmmm..., bukan, bukan ke kantor yang salah, meskipun kadang saya pun pernah merasa jengah. Tapi ini masalah pemakaian medsos yang lama-lama sudah di taraf nggak sehat. Awalnya saya menyangkal sendiri pemikiran ini, beranggapan bahwa pemikiran saya kelewat berlebihan. Ada pembelaan semacam “memang zamannya” atau “temen-temenmu juga kayak gitu kok” dan “toh semua baik-baik aja”.

Tapi lalu saya sadar, kalau mau melihat ke dalam (???) memang aktivitas di medsos yang selama ini saya lakukan perlu sedikit dievaluasi.

Saya ngaku kalo yang saya cari tiap pagi setelah melek adalah hape, bukannya air wudhu (terus tiba-tiba dakwah) LOL. Tiap duduk nunggu martabak dimasak sama babangnya yang saya lakukan adalah buka hape, scroll dan scroll dan scroll. Tiap di kantor dan lagi nggak ada kerjaan yang dicari dan dibuka nggak jauh-jauh dari instagram atau twitter.
Bahkan sampai tahap saya sadar udah nggak normal pun saya masih tetep nyecroll. Jadi begini, sambil scroll layar hape dalam hati “kenapa aku main hape terus” “aaak gimana ngeberhentiinnya ini” “my god, i don’t want to die like this”.

Kemudian beberapa hari setelah pemikiran tidak berdasar itu saya nemu sebuah artikel di twitter (nah dari medsos lagi) yang berjudul "In the time you spend on social media each year, you could read 200 books". Hah??? 200 buku? Setahun? 20 aja empot-empotan.

Menurut perhitungan penulisnya, waktu yang dibutuhkan untuk membaca 200 buku setahun adalah sebanyak 417 jam (dengan asumsi kecepatan membaca 400 kata per menit). Sesuai judulnya, penulis membandingkannya dengan waktu yang digunakan untuk media sosial selama setahun, yaitu sebanyak 608 jam. Oke ini nggak fair, karena hidup di Indonesia jadi data yang dipakai ya jangan data orang Amerika. Kemudian saya iseng dan nemu data pemakaian medsos rata-rata orang Indonesia, jangan kaget, that’s it, 3 jam 16 menit per hari yang adalah 196 menit per hari yang adalah 71.540 menit per tahun yang adalah 1.192 jam per tahun. (cmiiw)


wearesocial.com



Oke masih nggak fair, 400 kata per menit itu punyanya orang Amerika, mari dibuat lebih sedikit, 250 kata per menit lah. Dengan rata-rata 50.000 kata per buku, waktu yang dibutuhkan untuk membaca 200 buku adalah 666 jam. Masih setengahnya dari waktu main medsos.

Anggaplah masih nggak fair, 250 kata per menit itu berat buat orang seperti saya, coba dibuat jadi 150 kata per menit. Dengan kecepatan tersebut waktu untuk baca 200 buku per tahun adalah 1.111 jam. Dan masih kalah tipis dengan waktu main medsos.

Saya bukannya mau baca 200 buku setahun, tapi poin waktu di medsos yang sebanding dengan membaca 200 buku setahun itu cukup bikin ngeri. Ngeri karena selama ini waktu yang nggak bisa balik itu cuma dipake scrolling layar.

Mencoba buat nggak buka medsos itu susah, khususnya buat saya yang udah di taraf nggak sehat. Apalagi kalo barangnya ada, maksudnya masih ada aplikasinya di hape. Akhirnya, atas nama hidup yang cuma sekali, saya berinisiatif untuk tidak memakai medsos, atau istirahat main medsos selama seminggu dalam sebulan. Awalnya memang agak kagok, saya sering reflek ngambil hape trus baru inget udah nggak ada aplikasinya, dan taruh lagi. Selebihnya ternyata nggak susah-susah banget.

Percayalah, manusia masih bisa hidup walaupun seminggu nggak buka medsos. Saya adalah kelinci percobaan dari pernyataan empiris tersebut. Hahaha.

Tanpa medsos, banyak hal yang bisa dilakukan, seperti ndomblong, ngelamun, atau corat coret buku di tengah-tengah orang yang sedang ngadepin layar hapenya masing-masing. Atau kalau mau lebih bermanfaat, bisa baca buku, bersih-bersih kamar, dan beramal sholeh. XD

Yang jelas, masih banyak hal yang lebih menarik di dunia ini daripada layar smartphone datar 5 inchi, yang bisa dibaui, yang bisa dikecap, yang bisa disyukuri, yang bisa diajak bercanda, yang bisa dijelajahi, dan yang nggak ada salahnya dicoba, untuk diceritakan kepada anak cucu kelak.

Di balik layar smartphone itu mungkin cuma ilusi, pun waktu.

Tapi kan hidup bukan
.

.
.
*Bandung, 23 derajat celcius, belum ngerjain pr

Monday, March 13, 2017

Buku Cetak vs E-Book

Saya dulunya adalah penentang e-book garis keras. Meskipun belum pernah pake e-book tapi keukeuh yakin kalo e-book itu nggak asik, e-book itu pemurtadan terhadap ritual baca buku yang sakral, dan e-book adalah cara baca buku yang nggak keren sama sekali. Pokoknya segala tentang e-book adalah minus di mata saya.

Sampai suatu hari saya pengen banget baca bukunya MarieKondo yang ternyata harganya lumayan murah di google play book, sekitar 25 ribuan (belum termasuk pajak). Waktu itu masih weekday di kantor dan males banget kalau harus ke toko buku malem-malem, dan saya lagi nggak mau nunggu sampai weekend atau nunggu beli online. 

Dan begitulah hidayah datang. Dengan sedikit masalah pada proses pembayaran karena sebelumnya nggak pernah beli beli di playstore, akhirnya kebeli e-book Marie Kondo itu.

Ternyata, baca e-book itu nggak seburuk yang saya kira. Bagi saya yang nggak terbiasa, memang baca e-book itu nggak seenak baca buku cetak. Tapi seperti kebanyakan hal dalam hidup, dua-dua nya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Kepraktisan 

Soal kepraktisan e-book menang banyak dibandingkan buku cetak. E-book bisa dibaca kapan saja dan dimana saja selama saya bawa hape/smartphone. Dan ironisnya baca e-book di kantor itu lebih aman dibandingkan baca buku cetak (oke, bagian ini semoga atasan saya nggak tau). Kalo pas lagi nggak ada kerjaan saya bisa buka hape trus baca e-book tanpa terlihat sedang nganggur dalam waktu yang lama. Lain ceritanya kalo lagi nggak ada kerjaan trus saya ngeluarin buku dari tas dan malah asik sama buku selama berjam-jam. Itu keliatan banget nggak menghargai waktu kerja.  

Sedikit-sedikit tapi sering 

Selain di kantor, pas di angkot, pas nunggu mi tek-tek dimasak, atau nunggu martabak coklat keju mateng juga bisa dimanfaatkan sambil baca e-book meski cuma dapet tiga atau empat halaman. Walaupun sepele tapi ini berarti lumayan besar buat yang punya target baca buku. 

Karena baca buku cetak buat saya harus pas banget lagi di kosan, nyantai sambil minum teh, atau pas lagi oil pulling, atau pas udah siap ke kantor tapi masih kepagian kalo berangkat, atau kadang di kereta meskipun bakal keliatan songongnya. Jadi baca buku cetak itu butuh momen yang pas. 

E-book akan berjasa banyak buat bunuh waktu dimanapun dan kapanpun. 

Fitur yang memudahkan 

Selain bookmark dan text highlight (ini ngarang, nggak tau istilahnya, pokoknya teksnya bisa diblok terus dikasih warna semacam distabilo), fitur keren lainnya adalah kamus dan google translate. Fitur translate ini bermanfaat banget buat baca buku bahasa inggris, karena nggak semua buku terjemahan itu enak terjemahannya. Kata atau kalimat yang nggak ngerti artinya tinggal diblok lalu akan muncul pilihan translate, tinggal tap dan terjemahannya muncul. Bahkan untuk kata-kata dalam Bahasa Inggris yang makna atau padanan kata dalam Bahasa Indonesia nya nggak ada, tersedia fitur kamus oxford yang bisa diinstal.  

Lebih murah 

Ini salah satu alasan penting dan patut dipertimbangkan. Meskipun bedanya nggak terlalu jauh tapi buku versi e-book harganya memang lebih murah. Untuk e-book di google play book harga yang tertera sebenarnya bukan harga nett, masih ada biaya pajak dan administrasi yang besarnya kurang lebih sekitar 12% dari harga yang tercantum. Biaya tambahan 12% ini dibebankan oleh operator yang digunakan untuk melakukan pembayaran dan bukan oleh google play book.   

Terbatas 

Sayangnya nggak semua buku ada versi e-booknya. Di indonesia, buku-buku yang dicetak versi e-book setau saya baru dari terbitan mizan (cmiiw). Untuk penerbit lain, kayak gramedia, kpg belum nemu. Mungkin e-book bisa dipertimbangkan untuk baca buku-buku terbitan luar negeri misalnya. Tapi buku-buku terbitan luar negeri harganya lumayan bikin pengen nangis T.T . Harga satu buku bisa dua atau bahkan lima kali lipat buku dalam negeri. 

Bisa mati 


Kelemahan segala sesuatu yang berbau teknologi modern adalah mereka butuh energi. Butuh listrik untuk bisa digunakan. Pun e book, dia butuh hape saya tetap menyala kalau mau baca. Jadi kalau kehabisan baterai dan pengen baca? Nggak ada salahnya jaga-jaga bawa buku cetak kalau memang mau pergi yang sekiranya perlu bunuh waktu berkali-kali. Seperti kalau harus dinas luar yang perjalannya bakal ngebosenin, misal.  

Beda rasa 

Entah ini masalah hati, kebiasaan, prinsip, atau ketiganya digabung jadi satu, yang jelas ada perasaan dan sesuatu yang lebih dalam ketika baca buku cetak yang nggak bisa diperoleh dari baca e-book. Sesuatu yang konvensional memang biasanya banyak melibatkan perasaan, yang keterikatannya sulit digambarkan, tapi ada, dan bisa dirasa. 

Semacam menyusui bayi secara langsung dengan menyusui bayi lewat botol yang diisi asi hasil pumping. Maaf, saya nggak bisa nemu relevansi yang lebih mudah dipahami, dan padahal saya belum punya anak. Tapi setidaknya mungkin demikian. Yang diberikan ke bayi memang sama-sama asi, nutrisi yang diserap oleh si bayi sama-sama dari asi, tapi prosesnya beda, alatnya beda, dan mungkin kualitas asinya bisa jadi sudah berbeda. Nggak tau ini lama-lama ngaco ngebandinginnya. Tapi iya kan wahai ibu-ibu menyusui di luar sana, pasti ada kenikmatan tersendiri menyusui anak secara langsung dibandingkan dengan memberinya lewat botol? I bet it.

Sama kayak baca buku cetak, ada pertemuan antara kulit dengan lembaran-lembaran buku, bahkan setiap lembar buku bersentuhan dengan kulit pembacanya (kalau bacanya sampai habis). Ada aroma buku yang, nggak mungkin didapat kalo baca e-book. Dan di situ lah mahalnya, sakralnya, dan momen spesialnya. Ada regangan-regangan otot jari yang menahan kedua sisi buku agar bisa dibaca, meskipun kadang pegal, tapi di situ seninya. (Ini udah kelewat berlebihan belum? Karena masih ada lagi) 

Ada perasaan seolah-olah buku itu hidup dan punya perasaan. Nggak jarang kalau ceritanya bagus, atau kalau isi bukunya memang bikin takjub, saya bisa peluk buku tersebut sampai tidur pulas. Memang isi bukunya sama persis, informasi yang diperoleh pun sama, tapi karena prosesnya beda, bukan nggak mungkin informasi yang ditangkap dengan perbedaan sensasi di bagian tubuh tertentu bisa membuat tingkat pemahaman jadi berbeda juga kan. Akan beda kalau isi buku itu bagus dan yang dibaca adalah e-book, masa harus peluk smartphone? That’s weird.