Friday, February 24, 2017

[Review] The Life-Changing Magic of Tidying Up : Belajar Beres-beres dari Marie Kondo



Judul : The Life-Changing Magic of Tidying Up
Penulis : Marie Kondo
Penerbit : Bentang
  
Saya setuju kalau orang harus diajari cara beres-beres, karena selama ini saya beres-beres dengan cara yang salah. Saya sering beres-beres dan itu semakin membuat saya ngerasa kalau saya ini orang yang nggak rapi, nggak bisa rapi, atau memang dari sananya nggak punya bakat rapi. Bahkan saya sering ngelarang orang mau main ke kosan karena kamar saya selalu berantakan. Setelah nemu dan baca buku ini saya sadar saya cuma belum tau caranya.

Sesi beres-beres saya yang bisa memakan waktu seharian cuma mempertahankan kerapian kamar selama paling awet dua hari. Setelah itu kembali lagi seperti semula dan saya jadi beres-beres lagi, berantakan lagi, beres-beres lagi, berantakan lagi. Kadang saya kapok dengan siklus ini dan akhirnya ngebiarin kamar berantakan gitu aja sekaligus yakin saya nggak bakat rapi. 
Enggak. Bakat. Rapi.

Isi buku

Saya sukaaaaaa banget sama buku ini, tapi gimana ceritanya ya. Hmmm,…bentar-bentar. Oke. Jadi gini, selama ini saya nggak sadar kalau ternyata saya hidup dikelilingi oleh barang-barang yang ternyata nggak perlu, nggak perlu-perlu amat, dan nggak bikin saya bahagia. 
Sejak kapan punya barang harus bikin kita bahagia? 

Nah itu, buku ini ngajarin gimana caranya untuk hidup lebih seimbang, dengan cara memiliki barang-barang yang memang membuat kita bahagia.
“Pada dasarnya, berbenah semestinya adalah sebuah kegiatan untuk memulihkan keseimbangan antara orang-orang, barang milik mereka, dan rumah mereka.”
Selain itu buku ini juga mengajari saya untuk menerima kekurangan atau kecerobohan di masa lalu yang selama ini bukannya saya hadapi malah saya hindari. Gini contohnya, saya punya beberapa baju yang nggak tau kenapa saya nggak mau pakai. Ada juga baju atau rok yang bikin saya ngerasa sedih karena nggak suka padahal waktu itu saya beli (baju olshop biasanya). Atau sweater yang ternyata tangannya kependekan jadi aneh kalau dipakai. Atau jilbab dengan berbagai macam warna yang sudah dua tahunan nggak dipakai. Atau ada juga baju yang begitu dilihat di dalam benak saya langsung muncul “ini akan dipakai entah kapan pokoknya simpen aja dulu”. Semua baju itu menumpuk di lemari untuk disimpan dan bukannya dipakai.
“Proses itu memaksa kita untuk secara jujur menghadapi ketidaksempurnaan diri kita, kekurangan kita, dan pilihan bodoh kita pada masa lalu.”

Kesalahan-kesalahan selama ini 

Kesalahan beres-beres yang selama ini saya lakukan adalah saya memilih barang mana yang akan dibuang. Pada metode Kon Mari kita diajarkan untuk memilih barang-barang yang akan disimpan. Untuk memutuskan mana barang yang akan disimpan kita harus menyentuh dan memegang barang tersebut satu per satu dan merasakan apakah barang tersebut membuat kita bahagia atau tidak. Awalnya saya juga ngerasa “orang ini aneh banget” tapi setelah mencobanya sendiri ternyata proses tersebut berjalan alami dan saya dengan sendirinya tahu mana barang yang benar-benar membuat bahagia dan mana yang tidak.
“Kita semestinya memilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan”
Ada yang kedengarannya lebih aneh lagi. Menurut Kon Mari, untuk barang-barang yang akan disingkirkan kita harus mengucapkan terima kasih atas jasanya selama ini. Buku ini memang lumayan banyak banyolannya. Saya sering ngakak karena mbak Marie ini memang rada aneh.

Tapi setelah dipikir-pikir nggak ada salahnya. Barang-barang yang udah nggak membuat saya bahagia nyatanya memang pernah membuat saya bahagia sekali waktu, yaitu pada saat saya ingin membelinya. Bener kan, nggak ada salahnya ngucapin terima kasih sama rok yang dulu menggiurkan banget pas liat di ol shop. Iya kan? Ngga papa kan? Nggak aneh kan?
“Piawai menyimpan sama saja dengan menimbun”
Kesalahan beres-beres berikutnya adalah saya beres-beres berdasarkan tempat. Padahal cara yang efektif adalah beres-beres sesuai kategori barang dengan urutan baju, buku, kertas, komono (pernak-pernik), dan barang-barang bernilai sentimental. Kegiatan beres-beres ini harus dilakukan semua dan sekaligus. Maksudnya adalah mengumpulkan semua barang dengan kategori tersebut, se-mu-a-nya dalam satu tempat kemudian baru memilah-milah. Lakukan sesuai urutan. Bereskan semua baju dulu, setelah beres baru beralih ke buku, dst.

Jujur, prosesnya memang nggak gampang, tapi hasilnya nggak akan bikin kecewa.
  
Pemahaman baru 

Pernah di suatu mall saya ngomentarin temen yang mau beli kaos obralan buat dijadiin baju rumah atau baju tidur yang kira-kira begini “ih ngapain beli baju buat tidur, baju tidur mah dari baju yang udah jelek aja”.

Sekarang saya pengen teriak ngutuk diri kalo inget itu karena itu adalah pemahaman sangat sesat yang pernah saya anut dalam hidup.
“Hentikan mengalihfungsikan pakaian yang tidak menggugah hati Anda menjadi baju rumah”
Setelah memilah-milah baju sampai selesai barulah saya sadar bahwa baju tidur yang saya pertahankan hanya tersisa enam potong atasan, dan empat potong bawahan. Semua baju yang selama ini saya pikir bisa dialihfungsikan menjadi baju rumah ternyata nggak pernah terpakai sebagai baju rumah dan numpuk gitu aja di lemari nggak pernah kepilih.  

Semua orang harusnya nyantai setelah seharian kerja, bebas setelah sehari penuh pakai baju kantor. Di kosan adalah waktu saya seharusnya bisa jadi diri saya sendiri seutuhnya. Dan untuk itu saya seharusnya memakai baju yang nyaman dan enak dilihat. Bukannya pakai baju pergi yang udah jelek dan nggak nyaman dipakai di rumah apalagi buat tidur. 

Mempertahankan kerapian 

Setelah semua barang dipilah dan disimpan, hal selanjutnya yang dilakukan adalah mempertahankan apa yang sudah diraih. 

Kuncinya adalah mengembalikan semua barang ke tempatnya semula. Kalau saya pribadi saya memilih untuk memastikan semua barang sudah kembali ke tempatnya di pagi hari, sebelum saya meninggalkan kamar. Setelah pulang kantor saya pasti udah capek, laper, ngantuk. Ngeliat kamar yang rapi saat pulang kosan adalah salah satu kebahagiaan kecil yang bisa membuat lelah sedikit terobati.  

Lebih dari sekadar merapikan 

Setelah menyelesaikan proses beres-beres dan memulai rutinitas baru dengan barang-barang yang dirasa membuat bahagia, selebihnya saya tinggal menikmati hasil dari proses beres-beres tadi. Pada proses beres-beres yang saya lakukan saya membuang 52 potong (baju, jilbab, manset, celana, ciput, dll) dengan berat sekitar 20 kg, 15 buku, tiga pasang sepatu, dan beberapa produk perawatan yang nggak pernah saya pakai. 
“Selagi Anda mengurangi jumlah barang yang Anda miliki melalui proses berbenah, Anda akan sampai pada titik ketika Anda merasakan seberapa banyak yang pas untuk Anda”
Dengan memiliki barang-barang yang sudah saya pilih, saya jadi tahu bahwa di situlah titik cukup untuk diri saya. Dengan mengetahui batas cukup maka akan timbul sendiri perasaan dimana kita merasa butuh atau perlu membeli sesuatu karena dengan barang-barang yang tidak terlalu banyak kita bisa lebih mudah mengidentifikasi mana yang memang sudah waktunya perlu dibeli lagi.
Lebih jauh lagi saya bisa menahan keinginan untuk membeli barang karena saya sadar betapa sulitnya membuang barang.
“Tujuan berbenah yang sejati, menurut saya, adalah agar kita bisa hidup senatural dan sewajar mungkin”
Meskipun saya merasa buku ini bermanfaat bisa saja menurut orang lain tidak atau malah tidak menarik sama sekali. Tapi bagi saya ini adalah salah satu buku yang layak dimiliki. Setidaknya sebagai anak kosan ini adalah buku yang berjasa menjadikan kamar kosan saya lebih nyaman untuk ditinggali.

Sunday, February 19, 2017

O (Eka Kurniawan)






Judul     : O
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia

Ini buku Eka Kurniawan pertama yang saya baca. Katanya sih buku dia yang bagus adalah Cantik Itu Luka sama Manusia Harimau tapi waktu itu pas di toko buku lebih tertarik sama cover buku ini, karena warnanya biru kali ya dan juga deskripsinya yang singkat dan unik jadi bikin penasaran. 

Oke, O ini nama monyet tokoh utama dari novel. Jalan ceritanya unik, nggak kaya novel-novel lain. Novel O menceritakan tentang kehidupan seekor monyet betina bernama O yang berusaha mencari jelmaan kekasihnya (menurut kepercayaannya) yaitu Entang Kosasih sebagai seorang kaisar dangdut. 

Tema novel ini mulai dari cinta, kehidupan sosial, agama, dan fabel sekaligus. 

Di sini Eka Kurniawan nggak cuma cerita tentang O, tapi juga tentang kehidupan orang atau hewan di sekitar O bahkan sampai ke kehidupan orang atau hewan yang tidak berhubungan langsung dengan O. Penulis seperti ingin menunjukkan bagaimana kehidupan macam-macam makhluk pada umumnya saling berkaitan meskipun tidak berhubungan, namun sedikit banyak saling berpengaruh satu sama lain. 

Sebagai tokoh utama dalam novel, saya pribadi suka dengan karakter O yang diciptakan penulis dengan begitu nyata. Dia monyet yang punya keyakinan kuat akan mimpinya, dia selalu punya harapan sekuat apapun teman-teman di sekitarnya mengatakan hal sebaliknya. Ya meskipun pada akhirnya dia nggak percaya lagi bahwa jelmaan kekasihnya masih menunggunya berubah jadi manusia. 

Karena baru pertama menemui jenis novel seperti ini, di beberapa halaman pertama saya agak ragu kalo ini novel bagus. Mungkin karena terbiasa baca novel yang jalan ceritanya menceritakan kehidupan si tokoh utama melulu. Tapi novel ini bakal bikin bingung sementara karena seperti menceritakan secuplik adegan-adegan yang dengan sendirinya saya paham. Bingung in a good way i mean. 

Strategi buat baca novel ini adalah ikuti aja apa yang diceritakan dan biarkan otak kita yang menghubung-hubungkan keterkaitannya satu sama lain. Dan siap-siap lieur di tengah-tengah cerita karena tiba-tiba berhenti baca, lepas dari halaman, ngeliatin sekitar sambil mikir “bentar-bentar, ini tadi siapanya si anu ya?”

Nggak tau lah, mungkin ekspresinya bisa lain, tapi saya ngalamin itu beberapa kali. Dan bahkan setiap ada tokoh baru saya mencoba berhenti sejenak terus ngehubungin semuanya dulu dari awal baru rela mulai baca lagi. 

Selain O saya juga ngefans sama Entang Kosasih sebagai monyet bukan sebagai kaisar dangdut. Di sini Entang Kosasih tuh dibuat semacam tokoh utama cowok yang kalo di manusia dia rada-rada bad boy dan slengekan tapi setia sama si O. Bahkan susah kan ya nyari manusia dengan karakter demikian. Hahaha.

Pokonya novel ini lucu, unik, saya belajar banyak gimana rasanya jadi macam-macam hewan. Jadi tikus, jadi burung kakatua, jadi anjing, jadi babi, jadi ular sanca dan juga jadi monyet. Bahkan suatu hari pas behenti di lampu merah ada sirkus topeng monyet, saya ngebayangin monyet itu rela ikut sirkus topeng monyet karena percaya dia bisa berubah jadi manusia dan di kehidupan sebelumnya dia adalah ikan. Lumayan kan, jadi ngilangin bosen di lampu merah. 

Sebagai buku pertama ini cukup menarik dan kayaknya saya akan baca buku Eka Kurniawan yang lain. Manusia Harimau mungkin yang selanjutnya.

Monday, February 13, 2017

Menjahit Baju Untuk (sangat) Pemula


Sebelum ini saya belum pernah menjahit baju beneran. Dulu iya pernah waktu kecil ngejahit baju-baju barbie dari kain-kain sisa jahitan ibu, atau iseng ngejahit pouch-pouch kecil, atau ngejahit masker buat sendiri. Ngejahit baju memang nggak gampang, bahkan kalau kita ngejahitin baju pun ada cocok-cocokan sama penjahitnya, cocok sama penjahit ini dan nggak cocok sama penjahit itu. 

Tapi kemarin saya kaya orang kesurupan punya hasrat mau ngejahit baju nggak tau gimana caranya pokoknya harus jadi baju. Memang ada waktu-waktu saya punya kepengenan dan harus ditunaikan, sealami orang kebelet pipis yang harus dipipiskan. 

Karena saya nggak bisa ngejahit baju secara professional maka teknik yang akan saya sampaikan di sini adalah teknik paling dasar buat orang yang nggak bisa njahit. Ngejahit baju itu setau saya prosedurnya agak rumit, ini dari pengalaman ngeliatin ibu kalo bikin baju. Harus ngukur badan, bikin pola yang ukurannya hasil itung-itungan ukuran badan tadi, terus potong bahan dari jiplakan pola, terus baru disambung-sambungin dan masih harus diobras. Tapi di sini saya pakai metode paling primitif dalam sejarah perjahitan. Men-ji-plak. Yes, menjiplak dengan selebihnya adalah improvisasi saya sendiri. Mungkin suatu saat saya akan belajar jahit sama ibu. Nyesel selama ini ngapain aja di rumah.  

Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah nentuin baju yang akan dijiplak. Oh iya sebelum terlalu jauh saya sarankan di sini bikin baju yang gampang dulu, jangan bikin kebaya wisuda pakai teknik ini apalagi yang ada brukat-brukat sama furing segala macam. Kalo saya bikin blouse batik dari rok batik yang udah nggak dipakai karena nggak suka-suka amat. Terus saya juga pakai tambahan kain dari jilbab pashmina katun ima yang waktu itu saya beli karena lagi ngehits tapi ternyata nggak cocok. Usahakan juga baju yang akan dijiplak polanya nggak rumit, pokoknya jangan memulai dari yang rumit apalagi untuk hal yang belum kita tau. 

Kemudian langkah selanjutnya adalah menjiplak baju. Jiplak setiap pola baju menggunakan kain yang akan kita jahit. Jiplak setiap pola yang ada di baju itu dan jangan sampai ada yang ketinggalan. Biar aman bisa pakai spidol digambar dulu setelah itu barulah dipotong pakai gunting. Nah potong kain dengan menambahkan satu sampai dua senti di luar garis jiplakan (untuk dijahit nanti).

Hasil potongan jiplakan saya begini.

 




Setelah semua pola berhasil dibuat jiplakannya kemudian satukan setiap pola dengan teknik jelujur. Teknik jelujur ini memang malesin sebenernya, tapi percayalah hasil jahitan nanti akan jauh lebih rapi kalau kita menjelujur terlebih dulu. Itu kata ibu, dan memang benar apalagi untuk pemula seperti saya. Jelujur itu ibaratnya jahit kasar, asal bahannya nyambung dulu. Dan dengan dijelujur ini kita juga bisa ngepasin dulu ke badan sebelum beneran dijahit pakai mesin. Kalau ada yang kurang pas bisa dijelujur ulang. 




Tips dalam menjelujur atau menyambungkan pola ini adalah lakukan penyambungan lengan/tangan di akhir. 



Setelah dijelujur kemudian jahit dengan mesin. Sebenarnya pakai mesin jahit itu nggak susah. Prinsipnya sama kaya naik motor untuk mesin jahit elektrik. Ada pedal/tombol on off nya, dan kita tinggal mengarahkan kain yang dijahit. Tapi buat saya lebih enak pakai mesin jahit analog soalnya kaki sama tangan jadi bisa saling mengoreksi dan menyesuaikan kecepatan. 

Di sini saya pakai mesin jahit mini elektrik yang harganya nggak sampai dua ratus ribu dan masih awet dari jaman kuliah. 

Setelah semua pola dijahit rapi dengan mesin kemudian tinggal jahit pinggiran-pinggiran jahitan biar benang kainnya nggak mencar-mencar. Atau bisa juga ke tukang jahit mita tolong diobras, kalo di rumah dulu bayarnya 1500 rupiah.

Sebenarnya proses sudah bisa dibilang selesai sampai di sini. Tapi biar hasilnya lebih rapi baju yang sudah dijahit sebaiknya dicuci kemudian disetrika. Setrika baju di setiap sambungan sampai dia mlipis. Jadi nggak ada bagian-bagian yang menggelembung pas dipakai. 
*yang di foto ini belum dicuci apalagi disetrika, hehehe
Silakan dicoba, siapa tau selama ini ternyata punya bakat menjahit terpendam.