Tuesday, January 24, 2017

Daftar Buku yang Dipengenin, Tapi ...



Jadi tahun 2016 kemarin reading challenge saya di goodreads kacau. Parah. Salah satu penyebabnya karena jadwal kuliah yang udah mulai di akhir tahun dan karena sekarang udah nggak bawa buku lagi ke kantor. Dulu iya. Eh tapi belakangan masih suka bawa ding tapi nggak dibaca di kantor, nggak tau ngapain dibawa (lol). Terus, tahun ini buat challenge lagi tapi kali ini lebih realistis. Nggak mau muluk-muluk.
Setelah bikin challenge saya jadi buka-buka to-read list yang ada di goodreads dan ada beberapa buku yang sedikit membuat saya mengernyit. Kernyitan dengan artian semacam “hah, kenapa pengen baca ini ya?”.
Mungkin waktu itu ada yang ngreview buku tersebut dan tiba-tiba tertarik, tapi sekarang sudah lupa apa yang dulu membuat tertarik, haha geuleuh.
Tapi, dari to-read list tadi masih banyak kok yang sampai sekarang saya tau kenapa pengen baca buku itu, atau lebih spesifiknya pengen punya itu. 


  1. Hujan Bulan Juni
Pernah suatu hari di toko buku saya bilang “aku pengen punya buku ini” ke temen, trus dia nanya “tentang apa?”, “isinya puisi” jawabku, terus kata dia “ih ngapain beli buku puisi” dengan raut wajah yang seolah-olah saya makhluk melow menjijikan karena baca puisi.
Berhubung buku ini isinya puisi yang sebenarnya sudah saya baca secara gratis walau hanya selewat-selewat di toko buku, jadi saya selalu menunda-nunda beli buku ini. Kalau boleh ngelunjak saya berharap bisa punya buku ini secara gratis suatu hari nanti *ngarep*.
Jadi kalau ditanya kenapa pengen buku ini saya akan menjawab “ih keren tau puisi-puisinya”.

  1. Bumi Manusia
Ini adalah novel yang sudah direkomendasikan oleh banyak orang ke saya. Tapi karena harganya yang lumayan mahal untuk sebuah novel jadi sering dinomorsekiankan saat sedang ke toko buku. Mungkin tahun ini saya akan beli, atau setidaknya baca.

  1. Negeri Senja, Surat Dari Palmerah, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Buku SGA mana yang nggak mungkin saya nggak pengen. Terakhir beli buku SGA adalah Saksi Mata dan Sepotong Senja Untuk Pacarku, nah yang selanjutnya ya buku-buku ini. 

  1. Simple Miracles : Doa dan Arwah
Saya punya kebiasaan maraton baca buku-buku satu penulis dalam waktu berdekatan. Waktu itu saya sedang semangat-semangatnya baca buku Ayu Utami, mulai dari Bilangan Fu, Saman, Larung, Manjali dan Cakrabirawa, dan Lalita yang mereka ini ceritanya saling berkaitan. Nah kalo Simple Miracles ini karena rating di goodreads bagus jadilah saya pengen baca. 

  1. Panggil Aku Kartini Saja
Waktu itu menjelang hari kartini dan saya lagi termakan omongannya mbak Dian Sastro yang mengatakan kalo nggak salah intinya gini, mau sampai kapan hari kartini cuma bisa kita peringati sebatas memakai baju kebaya tanpa tau siapa kartini itu sebenarnya. Kedua, karena buku ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, jadi apa yang harus diragukan lagi. Cuma saya belum tau buku ini gampang dicari atau nggak.

  1. I Am Malala: The Story of the Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by The Taliban
Asalnya penasaran sama kisah Malala. Dan menurut saya sebagai perempuan penting untuk tau kisah-kisah tokoh kaya Malala ini. Malala men. 

  1. What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions
Kalo buku ini saya tertarik karena judulnya unik.

  1. The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing
Untuk sebuah buku tentang beres-beres, buku Marie Kondo ini adalah salah satu yang populer. Meskipun menurut beberapa orang isi buku ini terlalu banyak melibatkan perasaan, tapi hey, saya kan belum baca.
Selain itu baru-baru ini saya lagi tertarik dengan gerakan minimalis (minimalist movement) yang niatnya mau saya tulis di blog kapan-kapan. Sampai saat ini masih berproses perlahan menata rumah tangga atau khususnya kamar kos dengan prinsip-prinsip minimalism. Ada yang tertarik?

  1. Kosmos
Beruntunglah buku ini diterbitkan oleh KPG jadi saya bisa ayem nggak perlu cari yang versi bahasa inggris. Saya penasaran aja. Empat belas miliar evolusi kosmik, bayangkan.

Itu adalah buku-buku yang pengen saya baca tapi karena beberapa alasan jadi belum terlaksana. Selain buku-buku ini kalo ada yang mau merekomendasikan buku lain saya akan merasa sangat senang. 

I wish there’s more than 24 hours a day.


Sunday, January 22, 2017

Banyak Berubah, Banyak Belajar




2017 sudah berjalan 20 hari 17 jam. Banyak yang sudah berbeda. Januari ini sangat jauh berbeda dengan Januari sebelumnya. Disadari atau tidak 2016 telah mengantarkan banyak perubahan. 

Pekerjaan di kantor sudah mulai kelihatan rutinitasnya, dengan subbid baru, tugas baru, atasan baru, kegiatan baru, lingkungan baru, pemikiran baru, cara pandang baru, dan lain sebagainya yang hampir tidak terasa perubahannya. 

Sekarang sudah mulai kuliah. Malah sudah pindah kampus dan akan UAS. Apa yang sudah ya sudah, tidak perlu disalahkan, tidak perlu disesali juga. Pengorbanan memang macam-macam bentuknya. Sudah punya rutinitas baru lagi, berangkat sore dari kantor, pulang kuliah malam. Sampai kosan energi sudah habis jadi harus langsung tidur. Sudah nggak banyak waktu lagi buat baca buku, buat main gitar, nggak sesenggang dulu bisa habisin sekian serial tv semalam sampai larut. 

Weekend jadi pelampiasan. Kebiasaan tidur banyak jadi baru bisa dibayar pas Sabtu. Nggak bisa lagi sering-sering yoga. Sudah nggak bisa segampang dulu pulang ke Kebumen. Nggak bisa seenaknya cuti karena harus mempertimbangkan jadwal kuliah. Juga tugas. 

Pengeluaran juga harus mulai diperketat, banyak perlu ini itu, apalagi buat kuliah, nabung harus tetep jalan tapi makan juga nggak boleh kurang. Harus banyak belajar memilah-milah, mana kebutuhan mana keinginan, harus belajar menahan nafsu, belajar sabar, nerima rezeki-Nya. Sebanyak apapun pasti bisa habis, tapi kalau mau cukup pasti bisa dicukupkan. 

Satu lagi, yang berubahnya paling kerasa. Sudah harus bisa menata nggak cuma pekerjaan atau keuangan, tapi juga menata hati. Pelan-pelan semuanya juga akan terbiasa. Tujuan utamanya bukan untuk melupakan, tapi mengikhlaskan. Sulit iya, tapi untuk bisa juga bukan hal mustahil.

Harus percaya semua peristiwa, besar kecil, pasti ada yang bisa diambil, dipungut, apapun itu, sekecil apapun, remah-remah roti, selama bisa dijadikan petunjuk untuk melangkah ke depan. Belajar, bertumbuh, jatuh, sedih, bahagia, kecewa, bangga, gelisah, adalah pengalaman berharga yang tidak perlu disesali. Semuanya punya nilai sendiri-sendiri. Semuanya pasti akan punya peran suatu hari nanti, suatu saat nanti ketika dihadapkan pada yang lebih lagi. 

Semuanya proses, pelajaran, pembentukan diri, karakter, dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana diri ini menghadapi apapun yang diberikan hidup.


Apa kabar Januari yang akan datang?
 

Friday, January 13, 2017

My Skincare Journey (Bagian 1)



Postingan kali ini sedikit berbeda karena saya akan menceritakan pengalaman baru dalam dunia skincare. Tapi mungkin tidak akan seperti postingan para beauty blogger. Pertama, karena saya bukan beauty blogger dan belum ada niat untuk menjadi salah satu dari mereka. Kedua, apa yang saya alami ini mungkin tidak dialami oleh semua orang, tapi saya harap bisa bermanfaat bagi yang sama-sama mengalami maupun yang tidak (atau belum).


Beberapa bulan yang lalu saya mengalami alergi parah di kulit wajah. Awalnya hanya jerawat-jerawat biasa yang saya pikir muncul karena faktor hormonal. Sampai suatu hari alergi bertambah menjadi bruntusan yang sangat banyak, bahkan sampai ke kelopak mata.


Saat itu saya adalah konsumen aktif produk perawatan dari sebuah klinik kecantikan. Karena alergi yang sampai ke kelopak mata tersebut maka pertimbangan penyebab alergi bukan karena krim perawatan yang saya pakai melainkan karena faktor makanan. Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya makan cumi. Setelah mencari beberapa informasi, ada artikel yang menyebutkan kemungkinan bahwa orang yang sebelumnya tidak alergi terhadap makanan tertentu bisa menjadi alergi di kemudian hari. Alasannya bisa karena kondisi tubuh yang sedang tidak fit atau perbedaan kadar alergen yang terkandung di dalamnya.


Meskipun demikian setelah alergi tersebut muncul, semua produk perawatan saya hentikan pemakaiannya. Awalnya saya memilih untuk menyembuhkan alergi dengan cara membiarkan sembuh dengan sendirinya. Namun setelah menimbang-nimbang berbagai hal, termasuk yang paling penting adalah budget, diputuskan untuk memeriksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin.


Kenapa saya tidak ke dokter di klinik kecantikan tempat saya biasa melakukan perawatan? Pertama, waktu itu dokter yang biasa menangani saya sedang cuti menikah dan harus menunggu sekitar satu minggu sampai dia praktek lagi. Kedua, seandainya alergi ini disebabkan oleh krim perawatan yang selama ini saya pakai -yang adalah resep dari dokter tersebut- maka itu akan menjadi kunjungan yang sia-sia. Ini sama seperti kamu nyari solusi ke orang yang bikin kamu jadi bermasalah.


Setelah melakukan riset instan alias googling, diperoleh satu nama dokter yang buka praktek di rumah sakit Borromeus. Dokternya baik dan cantik, pelayanan dari rumah sakitnya juga bagus, dan poli kulit kelamin dengan gedung barunya sangat nyaman.



Kira-kira seperti ini percakapan saya dengan beliau waktu itu:



Dokter : “Assalamu’alaikum, ada keluhan apa mbak?”


S : *Lumayan kaget karena di rumah sakit biasa pun jarang disapa pake assalamu’alaikum* “Wa’alaikumsalam.....” (kemudian saya cerita).


Dokter : “Iya, itu karena alergi krim-krim racikan. Perawatannya di klinik apa?” *sambil nulis-nulis*


S : “Di *piiiiiip* dok. Ini bruntusannya sampai ke kelopak mata dok, kan saya nggak pakai krim sampai ke kelopak mata. Beberapa hari sebelumnya saya makan cumi, apa bukan karena alergi cumi ya dok? Tapi saya memang sebelumnya nggak ada alergi sama cumi sih dok.”


Dokter : *ketawa renyah tapi masih tetep cantik* "Bukan, kalo alergi makanan dia bruntusannya besar-besar." *masih sambil nulis-nulis* "Kelopak mata itu salah satu bagian yang lemah dan rentan, jadi meskipun pemakaian krimnya tidak sampai situ tapi bagian yang lemah atau rentan juga terkena efeknya.”


S : “Tapi saya udah pake krim itu setahunan lho dok, bisa ya alerginya baru muncul sekarang?”


Dokter : ”Bisa. Ada yang namanya allergi contact dermatitis, jadi zat nya menumpuk dulu di kulit, baru setelah beberapa lama dia menyebabkan alergi. Tergantung dengan kondisi kulit juga.” <-- kira-kira ngomongnya begitu.



Ada dua salep, dua obat minum, dan satu facial wash yang diresepkan oleh dokter dengan total biaya kurang lebih 350ribuan. Seminggu setelahnya saya disarankan untuk datang lagi. Sepulang dari rumah sakit saya mencari informasi tentang allergi contact dermatitis. Kebanyakan informasi berasal dari luar negeri alias pakai bahasa inggris. Itu pun tidak semuanya sesuai seratus persen sama dengan kondisi yang saya alami.


Seminggu kemudian saya datang lagi. Waktu itu ngantrinya tidak selama saat kunjungan pertama. Kemudian ada satu hal yang menurut saya sangat esensial untuk ditanyakan kepada seseorang yang ahli dalam bidang perkulitan. Dan inilah pertanyaan saya: "Dok, jadi kalau ngerawat kulit buat sehari-hari yang aman pake apa ya dok bagusnya?" Titah beliau sebagai seorang ahli medis adalah: "Nanti saya kasih krimnya, sekarang disembuhin dulu kulit wajahnya".


Oke. Di momen tersebut jika diibaratkan sedang naik kereta dengan tujuan tertentu saya memutuskan untuk turun di stasiun pemberhentian terdekat dan sambil dadah-dadah tersenyum getir sekaligus iba. Awalnya saya merasa ini cuma masalah logika berpikir rasional, tapi semakin ke sini saya merasa ini adalah sebuah jalan hidup, suatu pilihan yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang harus siap saya terima. *mulai sentimentil*


Pernyataan dokter untuk memberikan pelayanan berupa penyediaan krim perawatan bagi pasiennya adalah satu hal, dan pilihan saya untuk tidak lagi menjadi konsumen dari krim-krim tersebut adalah hal lain lagi. Bukan salah dokter meracik krim demi estetika kulit pasiennya, pun bukan salah dokter jika saya merasa kurang sreg untuk memulai lagi perjalanan krim-kriman itu. Saya tidak meragukan keahlian dokter dalam menyembuhkan dan merawat kulit nantinya, saya cuma merasa "ini bukan jalannya".


Dari kunjungan kedua ke rumah sakit saya kembali diberi obat-obatan berupa satu vitamin kulit, satu toner racikan dokter yang salah satu komposisinya adalah alkohol 70%, dan satu krim anti iritasi yang juga diracik oleh dokternya. Total biaya kunjungan kedua kurang lebih 300 ribuan.


Sejujurnya, saya tidak langsung seidealis tadi saat baru melakukan kunjungan kedua. Tapi sudah ada perasaan bahwa saat itu kalau waktu bisa diputar kembali mungkin saya akan memilih untuk tidak melakukan perawatan di klinik kecantikan yang menyebabkan saya alergi. Kemudian sekarang ada satu gerbang lagi terbuka untuk kesempatan yang sama, untuk tujuan yang sama, dengan cara yang hampir sama. Ada peluang bahwa melakukan perawatan dengan krim dokter yang kali ini bisa menyembuhkan kondisi kulit saya waktu itu. Pun sebaliknya, ada juga peluang untuk saya menyesal di kemudian hari dan berharap saya tidak memakai krim-krim racikan lagi.


Beruntunglah saya memiliki teman-teman yang waktu itu sudah lebih dulu menyadari hal yang kebenarannya sudah nyata, hanya saja perlu tamparan keras untuk saya sampai pada pemahaman itu. Pemahaman bahwa hampir semua produk perawatan kulit yang ada di muka bumi ini, di-mu-ka-bu-mi-i-ni, mengandung bahan-bahan berbahaya. Sebenarnya tidak hanya produk perawatan kulit saja, tapi juga sampo, deodoran, dan yang jelas ya krim-krim perawatan untuk wajah itu tadi.


Teman-teman tadi, Yoke dan Rizky (halo Riz, Yok),  yang tidak bisa saya jabarkan riwayat hidupnya satu-satu di sini, adalah salah satu yang turut menguatkan saya untuk tidak kembali lagi pada krim-krim dengan kandungan yang bahkan saya nggak tau cara pengucapannya.



------------> Bersambung ke bagian ke-2............