Tuesday, September 6, 2016

Milea : Suara dari Dilan


Judul : Milea (Suara dari Dilan)
Penulis : Pidi Baiq
Rating : 4/5



"Saat SMA pun aku merasa jadi orang yang mulai berpikir bahwa ketidakpastian tidak akan memakanku hidup-hidup"

Diizinkan atau tidak, saya sudah dan akan meyakini bahwa Dilan itu Pidi Baiq dan Pidi Baiq adalah Dilan. Sekalipun dalam halaman awal buku Milea, Dilan bercerita bahwa penulisan buku ini dimulai dari pertemuannya dengan Pidi Baiq. Oke, anggap saja mereka bertemu dalam pikirannya sendiri, dalam monolog antara Pidi dan Dilan.

Sebagai orang yang sudah membaca Dilan 1 dan 2 saya sedikit banyak penasaran juga dengan buku ini. Dan tidak bisa berlama-lama untuk membiarkannya ngantri dengan buku-buku lain yang padahal sudah saya beli lebih dulu.

Dalam buku sebelumnya, yaitu Dilan 1 dan Dilan 2, Milea bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Sehingga apa yang ada di pikiran selain dia tidak diketahuinya, khususnya Dilan. Nah, Pidi Baiq menjawab semua rasa penasaran saya dengan buku ini.

Meskipun diberi judul Milea, buku ini tidak seluruhnya bercerita tentang Milea. Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah karena banyak yang sudah diceritakan oleh Milea dalam Dilan 1 dan Dilan 2. Kemungkinan kedua adalah karena Pidi Baiq ingin menyampaikan banyak informasi, dan banyak pesan di luar penceritaan kisah cinta Dilan dan Milea. Dan informasi tersebut bisa tersampaikan dengan kisah-kisah yang lain.

Salah satu yang menarik bagi saya adalah banyak gagasan-gagasan tentang parenting dengan menceritakan kehidupan keluarga Dilan. Tentang seperti apa Dilan dibesarkan, dan seperti apa juga Dilan menyikapi cara kedua orang tuanya dalam mengasuh dirinya. Sama sekali tidak dibuat dengan terlalu menggurui atau tata cara yang rumit. Bagi saya apa yang ingin Dilan sampaikan tentang kedua orang tuanya adalah bahwa mereka membesarkan Dilan dengan komunikasi yang baik dan penuh pengertian satu sama lain.

Lebih dari itu, Dilan tumbuh menjadi anak yang memiliki hati yang baik. Dia memang anggota geng motor, tapi dalam setiap tindakannya Dilan selalu punya banyak pertimbangan. Dan dalam pertimbangan tersebut satu hal yang selalu dijaganya adalah agar dirinya jangan sampai merugikan orang lain.

Tapi inti dari buku ini saya rasa ada di halaman-halaman belakangnya. Yaitu saat Dilan dan Milea akhirnya sama-sama tahu tentang kesalahdugaan mereka sebelumnya dan memilih untuk bersikap tidak egois dengan bertahan pada cinta yang telah dimiliki oleh masing-masing dari mereka.

Hmm mm m, tapi itu bukan membohongi diri sendiri kan ya?

Ah sudahlah, toh pada akhirnya jalan hidup akan menemukan caranya masing-masing untuk tertuliskan menjadi takdir.

"Mudah-mudahan, setelah ini, kita bisa menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini"

Saturday, September 3, 2016

Nagabumi I : Jurus Tanpa Bentuk


Judul       : Nagabumi I (Jurus Tanpa Bentuk)
Penulis    : Seno Gumira Ajidarma 
Penerbit : Gramedia 
Rate : 4/5




"Makna datang dari manusia apapun makna yang diberikannya"

Nagabumi I sebenarnya adalah cerita bersambung yang pernah dimuat di harian umum Suara Merdeka, Semarang dari 7 Januari 2007 sampai 11 Maret 2008. Sebagai cerita bersambung Nagabumi I masih mempunyai serial lanjutan berikutnya yaitu Nagabumi II: Buddha, Pedang dan Penyamun Terbang.

Berlatar kerajaan-kerajaan di nusantara dan sekitarnya pada abad ke VII sampai VIII masehi, Nagabumi bercerita tentang seorang pendekar silat yang muncul kembali setelah begitu lama menghilang dari dunia persilatan. Di tengah para pendekar yang kerap menjuluki dirinya sendiri dengan nama-nama aneh sesuai ilmu yang dikuasainya, dia bahkan merasa tidak perlu membuat nama hanya untuk sekadar mempermudah orang lain memanggilnya atau untuk tidak perlu bingung saat memperkenalkan diri dengan orang lain.

Dengan ilmu silatnya yang sangat tinggi dan perjalanan hidupnya yang kerap harus atau terpaksa bertemu dengan orang-orang yang kemudian satu-per satu datang untuk menjajal ilmunya, dia dengan sendirinya dikenal sebagai Pendekar Tanpa Nama. Sebagai nama pemberian yang dikenal dari mulut ke mulut dia sendiri bahkan tidak merasa memiliki nama tersebut. Maka dalam setiap perkenalannya Pendekar Tanpa Nama hanya akan memperkenalkan dirinya dengan "aku tidak mempunyai nama".

"Banyak pilihan tidak selalu membuat segalanya lebih mudah-tidak ada pilihan lain jauh lebih mudah, meski ketiadaan pilihan bagaikan suatu nasib yang memaksa kita untuk pasrah"

Sekembalinya Pendekar Tanpa Nama ke dunia persilatan setelah menghilang dalam samadhi panjangnya, ia dikejutkan dengan selebaran bergambar sketsa wajah dirinya sebagai buron dengan tuduhan pengkhianat negara. Selebaran itu rupanya adalah sebuah sayembara. Siapapun yang berhasil membunuh pendekar tanpa nama akan mendapatkan sepuluh ribu keping emas.

Sejak saat itu, sejak dia keluar dari samadhinya dan muncul kembali dalam dunia persilatan banyak orang memburu ingin membunuhnya. Dengan ilmu Pendekar Tanpa Nama yang sangat tinggi semua pemburu sayembara itu berhasil dimusnahkan dengan mudah. Namun bukan berarti Pendekar Tanpa Nama hanya akan membiarkan masalah tersebut berlarut-larut tanpa ada kejelasan baginya. Membunuh pendekar yang berniat membunuh dirinya mungkin memang hal mudah, tapi membunuh terus-menerus mereka yang termakan fitnah hanya akan membuang nyawa secara sia-sia.
 "Jika hidup berjalan tidak seperti yang kita inginkan," katanya, "apa pula salahnya?"

Bermodalkan selebaran bergambar sketsa wajahnya, Pendekar Tanpa Nama berniat untuk mencari dalang masalah yang telah menyeret dirinya. Dari sinilah kisah akan dimulai. Hingga kemudian Pendekar Tanpa Nama akan berkisah tentang riwayat hidupnya untuk mengetahui hal-hal yang mungkin dilupakan atau terlewat dari pengamatannya selama ini.

Mirip seperti pada Kitab Omong Kosong, yang juga ditulis oleh SGA, dalam buku ini digunakan teknik penceritaan yang hampir sama. Keduanya sama-sama tokoh yang sedang berkisah. Bedanya dalam Nagabumi I tokoh utama berkisah secara alami layaknya orang bercerita tentang hal yang pernah dialaminya. Sedangkan dalam Kitab Omong Kosong kisah yang dituliskan oleh si tukang cerita adalah kisah yang kemudian menjadi kenyataan dan masih dengan tokoh pencerita tersebut di dalamnya. Agak sedikit membingungkan memang.

Mengenai alur cerita Nagabumi I, saya sangat terkesan dengan hal-hal detil yang berkaitan dengan sejarah. Pada abad ketika cerita ini berlangsung orang-orang paling banter hanya bisa menuliskan suatu peristiwa yang dianggapnya sangat penting dalam sebuah prasasti, atau lempir lontar (seperti diceritakan di dalam buku). Itu pun jika yang dituliskan adalah memang sebuah kebenaran dan bukan sesuatu yang dikarang-karang yang dibuat demi kepentingan satu pihak di masa itu.

Kebudayaan pada zaman itu diperoleh dari perabotan yang digunakannya yang tidak sengaja ditemukan terkubur. Selebihnya, karena saya bukan ahli sejarah atau arkeolog atau ilmu lain yang sejenis, jadi saya kurang paham bagaimana sebuah sejarah bisa diketahui, dianalisa dan diterjemahkan menjadi informasi.

Dalam buku ini akan ditemukan banyak sekali informasi-informasi sejarah yang digunakan untuk membangun sebuah cerita kehidupan pada zaman berabad-abad lalu. Nagabumi I membuktikan bahwa imajinasi adalah bibit utama dari kisah-kisah yang menarik. Dan SGA bagi saya berhasil membangun imajinasi yang tidak biasa namun tetap meyakinkan ketika diceritakan dengan kemampuan berceritanya yang luwes.

Satu hal lagi yang akan sering disebut-sebut dalam buku ini adalah tentang salah satu bangunan keagamaan terbesar di Jawa Tengah, Candi Borobudur. Sebagai orang Jawa Tengah yang sudah beberapa kali ke sana, setelah membaca Nagabumi I saya merasa suatu saat saya harus kesana lagi dan saat itu saya harus sewa tour guide ala-ala bule. Selain itu mungkin penglihatan saya saat di Borobudur kelak akan berbeda dengan yang sudah-sudah. Tidak lagi pada angle foto mana yang baik untuk diambil dan bukan lagi stupa mana yang bisa dipegang biar permintaannya terkabul.