Thursday, August 20, 2015

Tiada Ojek di Paris



Title : Tiada Ojek di Paris
Author : Seno Gumira Ajidarma
Rate : 4/5


"Jika jalanan menunjukkan bangsa, 
apa yang mau dikatakan tentang Jakarta?"


Tiada Ojek di Paris adalah awal kecintaan saya dengan tulisan Seno Gumira Ajidarma. Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis SGA berkaitan dengan hal-hal lumrah di sekitar kita yang sering terabaikan. Secara khusus SGA memaparkan dengan mengambil Jakarta sebagai contohnya.

Dari segi gaya bahasa saya rasa tidak perlu meragukan kelihaian seorang SGA. Seno mengkaji fenomena-fenomena sosial pada kaum urban secara keilmuan namun tetap ringan. Tak jarang penulis juga menyampaikan sindiran-sindiran halus terhadap budaya yang saat ini berkembang, khususnya di Jakarta. 

Judul Tiada Ojek di Paris sendiri diambil dari salah satu essainya yang berjudul Ojek Sudirman-Thamrin. Dalam essai berjudul Ojek Sudirman-Thamrin SGA berkisah tentang fenomena ojek sebagai bukti kreativitas dalam usaha survival kelas bawah dalam tingkat kemakmuran ekonomi. Fenomena ojek adalah komunikasi alami yang terjadi antara kebutuhan si tukang ojek dalam bertahan hidup dengan kebutuhan si pengguna ojek untuk sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat karena harus melewati kemacetan ibukota.

Kemudian masih dalam judul essai yang sama, SGA mengungkapkan sindirannya terhadap fenomena ojek yang tidak ada di Kota Paris. Kenapa tidak ada ojek di Paris? Jelas karena bagi masyarakat Paris berjalan kaki adalah aktivitas yang menyehatkan, dan bukan masalah besar untuk berjalan kaki di kota tersebut. Sedangkan masyarakat Jakarta dirasa kurang suka untuk berjalan kaki, entah karena sarananya yang tidak memadai, suasana ibukota yang panas, ataukah karena Tuhan masih sayang dengan para tukang ojek.

Note:
Bagi Homo Jakartensis (masyarakat Jakarta) saya rasa akan memahami betul apa yang coba disampaikan penulis dalam buku ini. Bagi spesies selain Homo Jakartensis, yang ingin mencoba merasakan atau mempelajari budaya urban bisa belajar banyak dari buku ini.

Monday, August 10, 2015

Wisata Bandung : Menikmati Sunrise di Tebing Keraton a.k.a Cadas Jontor


Tebing Keraton adalah salah satu destinasi wisata alam yang (sudah lama) ngehits di Bandung. Lokasinya sebagai wisata alam bisa dibilang tidak jauh dari kota Bandung itu sendiri, sekitar 9 km dari McD Simpang Dago atau kira-kira setengah jam perjalanan naik motor. Cukup dekat dari Taman Hutan Raya Bandung (Tahura).

Menurut riwayatnya nama Tebing Keraton muncul secara alami dari seorang warga Desa Wisata Ciburial yang tiba-tiba saja menamainya Tebing Keraton. Begitu saja, tanpa ada perumusan panjang atau ritual sakral yang dilengkapi sajen. Tidak. Beliau cuma sekedar memberinya nama. Dia menuliskan nama tersebut di depan rumah berikut dengan petunjuk jalannya. Sejak saat itu satu demi satu pengunjung Tebing Keraton pun berdatangan.

Sebelum proses penamaan yang cukup ajaib itu tempat ini biasa disebut Cadas Jontor, yang diterjemahkan secara kasar menjadi Batu yang Menonjol. Nama Cadas Jontor sangat mewakili tempat ini karena secara fisik memang berupa bongkahan batu sangat besar yang menonjol/menjorok.

Kebanyakan pengunjung datang ke Tebing Keraton menjelang pagi untuk melihat sunrise. Gunakan baju yang cukup hangat agar tidak kedinginan jika ingin datang menjelang pagi. Pastikan sepeda motor yang akan digunakan berfungsi dengan baik karena medan yang akan dilalui cukup mengerikan.

Semakin mendekati lokasi, jalanan semakin terjal dan berbatu serta berkelok-kelok. Tapi tidak perlu khawatir karena di jalan menuju lokasi wisata ada mamang-mamang ojek yang siap menawarkan jasa tumpangannya. Lokasi parkir sangat dekat dengan tebing, jadi tidak perlu berkeringat karena harus berjalan jauh.


And, there we are. Kami sudah sampai ke lokasi Tebing Keraton.

   

Dan ini yang dicari-cari sampai jauh kemari. Lihat matahari. 



Lihatlah segalanya dari dua sisi. Di balik foto-foto indah itu, ada..., mmm. Naha rame kieu?


Pemandangan di sisi yang lain.





Dan inilah akhir perjalanan kami (foto mangap-mangap itu di luar rencana).